Jadi Penjual dan Pembeli yang Jujur

penjual-pembeli-jujurPada jaman dahulu terutama orang yang tinggal di daerah pedesaan masih kental sekali dengan budaya gotong-royong dan kejujuran. Jika di kampung maka perwujudan dari budaya  tersebut dapat kita lihat pada saat membangun rumah. Jika seseorang sedang membangun rumah maka sebagian besar warga akan turut membantu beramai-ramai tanpa diberi upah, cukup dikasih makan dan minum karena mereka yakin bahwa jika nantinya mereka akan membangun rumah maka akan diperlakukan juga seperti itu. Budaya kejujuran dapat kita lihat apabila kita menanam buah di ladang maka tidak ada warga yang berani mengambil buah tersebut tanpa seijin yang punya sekalipun buah tersebut sampai membusuk di pohon. Apakah budaya ini masih berlangsung sampai saat ini di negeri kita ? kami yakin masih ada daerah yang mempunyai budaya luhur semacam ini namun semakin lama semakin luntur akibat dari pengaruh budaya modern yang terus menerpa mereka terutama dengan masuknya televisi ke tengah-tengah kehidupan mereka. Tiap hari disuguhkan tontonan di televisi yang tidak mendidik, semua orang berkelai, berpesta pora, menampilkan kejahan, penipuan, korupsi. Jika kita amati sebagai orang awam maka tayangan televisi semakin lama semakin jauh dari nilai-nilai luhur budaya kita apalagi nilai agama.

Jadi nilai kejujuran dan budaya gotong-royong semakin lama semakin pudar karena masing-masing orang seperti banyak dicontohkan dalam televisi mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya. Tetapi di situasi yang kurang menentu tersebut masih ada setitik harapan dengan datangnya teknologi yang netral sehingga dapat memaksa seseorang harus berbuat jujur. Coba bayangkan kalau ada orang menjual barang misalnya di super market kemudian orang itu tidak jujur dengan mencuri karena tidak ada yang menjaga saat mengambil barang. Kita bayangkan jika kondisi seperti ini tidak hadir teknologi modern yang memungkinakan seseorang tidak bisa mengambil barang begitu saja di super market karena akan diawasi baik melalui CCTV maupun alat pengaman lain dan pembelianpun di lakukan di kasir dengan sistem komputerisasi yang modern. Jadi dengan teknologi maka masyarakat yang tidak jujur maka akan dipaksa untuk hidup jujur. Seharusnya jadilah penjual dan pembeli yang jujur tanpa harus mengedepankan teknologi sebagai alat pengawas kita. Bukankan Allah selalu mengawasi gerak-gerik kita ? yang lebih canggih daripada teknologi apapun.

Demikian halnya dengan perdagangan online yang saat ini sedang marak dilakukan oleh masyarakat kita karena memang eranya sudah berubah dari jual-beli secara tradisional menjadi jual-beli online yang pasarnya menjangkau ke seluruh dunia tanpa mengenal batas antara pejual dan pembeli. Jadi kejujuran kedua belah pihak antara penjual dan pembeli mutlak diperlukan. Jika salah satu pihak merasa tidak ada yang mengawasi seperti halnya di super market tadi maka yakinkan bahwa dengan niat menyengaja untuk menipu secara online baik sebagai penjual maupun pembeli maka bisnis anda tidak akan maju dan hancur di kemudian hari karena jika manusia tidak mengetahui maka Allah yang maha tahu. Etika berbisnis secara jujur perlu digalakan di dunia online sehingga harapan kita jika ada yang melakukan penipuan segera disebarkan lewat berbagai media online sehingga pelakunya segera kena sangsi blacklist.

Pernah pada suatu hari seorang kawan berbisnis online baju muslim. Kemudian ada yang mau order nilainya cukup besar hampir 11 juta karena pembelinya baru pertama kali beli dan nilainya cukup besar maka teman saya mencoba mengecek keberadaan pembelinya yang kebetulan masih satu kota. Setelah dicek mereka ada ruko untuk berjualan, ya otomatis teman saya percaya. Kemudian dia minta dikirim barang katanya buru-buru hari Sabtu dan Seninnya akan dikasih cek karena teman saya sudah mengecek tempatnya oke maka percaya saja. Benar hari Sabtu dikirim barangnya senilai 11 juta kemudian hari Senin teman saya mau mengambil cek sesuai dengan yang dijanjikan. Apa yang terjadi, pada saat datang rupanya rukonya sudah tutup. Semua barang hilang dan orangnya kabur entah kemana membawa barang-barang yang telah mereka kirim. Rupanya mereka menggunakan taktik seolah-olah punya ruko untuk menipu orang-orang. Kejadian semacam ini mungkin bisa diambil pelajaran bahwa jika bisnis online sebaiknya perlu hati-hati apalagi yang melibatkan transaksi dalam jumlah besar. Mulailah transaksi kecil-kecil sampai anda yakin penar bahwa penjual atau pembeli itu bukan penipu.

Semoga informasi semacam ini bermanfaat buat pembaca. Amin

This entry was posted in Usaha Sprei. Bookmark the permalink.