Bisakah Mulai Usaha Dengan Berhutang ?

Memulai usaha tentunya diperlukan modal meskipun ada yang modal kecil dan modal besar. Sebagian orang memulai usaha dengan modal nekat tidak mempunyai uang tapi berhutang. Tipe ini boleh dikatakan lebih berani daripada orang yang memulai usaha sampai menunggu uang tabungannya terkumpul. Sebagian besar pengusaha, kami yakin mempunyai hutang baik untuk operasional perusahannya maupun untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Bahkan tidak sedikit pengusaha yang apabila dijual seluruh assetnya maka tidak bisa menutup hutangnya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk jenis pengusaha yang demikian.

Apakah hutang itu baik ?

Sebenarnya yang paling baik adalah hidup cukup tanpa hutang. Namun terkadang supaya terjadi kondisi demikian tidaklah mudah, sebagian besar kondisi kita jika ingin memulai usaha mau tidak mau harus berhutang. Hutang sebenarnya baik asalkan digunakan untuk kegiatan yang produktif dan tidak baik jika digunakan untuk konsumtif. Hutang itu sepeti mata pisau jika salah menggunakan maka kita akan terbunuh/terluka dengan pisau tersebut dan jika kita pandai menggunakan maka pisau tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.

Nah pertanyaannya adalah bagaimana kita tahu kalau hutang itu untuk konsumtif atau produktif ? Sebenarnya secara umum mudah dibedakan, yuk kita teliti satu per satau :

  1.  Teliti Tujuan Anda Berhutang Untuk Apa

Jika anda niat berhutang untuk sesuatu yang tidak menghasilkan uang secara langsung maka itu namanya untuk konsumtif. Misalnya dengan hutang anda ingin beli mobil sedan baru dengan alasan agar penampilan lebih keren sehingga banyak proyek yang didapat. Hal ini kurang produktif, lain halnya jika anda membeli mobil untuk operasional usaha yang saat ini memang sudah memerlukan mobil tersebut. Tujuan hutang untuk membuka usaha baru, ini termasuk jenis produktif dan hutang untuk memperbaiki rumah tidak produktif. Pertanyaannya adalah apakah hutang untuk tujuan produktif akan selalu menguntungkan ? Ya belum tentu namanya juga usaha kadang ada untung dan kadang ada rugi. Namun jika hutang untuk konsumtif sudah dapat dipastikan rugi.

2. Teliti Nilai Keuntungan Secara Langsung

Hutang anda produktif atau tidak maka dapat dilihat sebelum berhutang berapa bunganya. Misalnya bunganya 18% per tahun karena hutang diibaratkan dengan beban hutang. Jadi jika usaha anda di atas kertas untungnya lebih kecil dari 18% per tahun berarti hutang anda tidak produktif karena hasilnya lebih kecil dari beban hutang yang harus anda tanggung dan sebaliknya merupakan hutang produktif. Sering menjadi masalah namanya usaha terkadang di tahun-tahun awal mengalami kerugian namun ditahun-tahun berikutnya biasanya akan mendapatkan keuntungan. Jika demikian maka perhitungan dapat kita lakukan untuk rata-rata 3 sampai 5 tahun,  bagaimana kira-kira masih untung atau rugi ?

3. Teliti Manfaat Tidak Langsung

Apakah ada manfaat hutang tersebut untuk peningkatan usaha kita ?

Produktifitas juga dapat kita nilai seberapa besar manfaat dari penggunaan hutang tersebut bagi usaha kita meskipun secara tidak langsung.  Misalkan hutang untuk membelikan seragam karyawan, mungkin kelihatannya tidak menghasilkan namun jika kita belikan seragam membuat karyawan merasa ada nilai kebersamaan diantara karyawan dan tidak perlu beli baju yang berganti-ganti untuk bekerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktifitas kerja meskipun tidak langsung.

4. Hutang Sesuaikan Dengan Kemampuan

Meskipun sering terjadi seseorang hutang pada bank melebihi agunannya namun kejadian ini kita sarankan tidak dilakukan karena anda akan mengalami kesulitan di kemudian hari karena membuat data palsu dan yang lebih mengerikan anda akan menderita kerugian usaha ditambah dengan beban bunga bank yang harus anda selesaikan. Jadi Hutang usahakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak perlu membuat data-data palsu agar disetujui oleh bank karena akibatnya anda sendiri yang akan rugi.

Berhutang untuk usaha bukan suatu kesalahan apalagi dosa tetapi penggunaan yang tepat dan terarah merupakan suatu keharusan. Semoga bermanfaat

This entry was posted in Bisnis Sprei. Bookmark the permalink.