Apakah Saya Bakat Bisnis ?

Alasan yang paling sering digunakan orang saat ditanya kenapa tidak terjun berbisnis atau menjadi pengusaha adalah “Saya tidak mempunyai bakat dagang”. Apalagi alasan ini ditambah dengan latar belakang keluarganya yang tidak ada yang berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha. Seolah-olah sudah komplitlah untuk membenarkan bahwa memang kalau tidak dari keturunan pedangan dan tidak punya bakat dagang sudah pasti tidak bisa menjadi pengusaha. Padahal kalau ingin menjadi negara maju ukuran persentase pengusaha ini yang akan menjadi tolok ukur maju tidaknya suatu negara karena dengan adanya banyak pengusaha maka akan membuka lapangan kerja yang semakin besar sehingga persentase pengusaha di negara maju akan lebih besar daripada negara berkembang apalagi di negara miskin. Untuk itulah tugas kita untuk menciptakan generasi pengusaha adalah merupakan tugas mulia yang tidak cukup sebatas cita-cita namun harus action mulai dari sekarang juga, Lalu bagaimana kalau kita saat ini sudah terlanjur menjadi karyawan ataupun pegawai ya paling tidak meniatkan diri untuk memberikan didikan kepada putra-putri kita bahwa menjadi pengusaha itu juga merupakan tugas mulia sehingga anak-anak kita nantinya tidak hanya mengandalkan bekerja kepada orang lain tetapi mempunyai jiwa menciptakan lapangan pekerjaan buat orang lain. Bukannya orang yang memberi itu lebih mulia dari orang yang meminta.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan orang kok sukses Menjadi Pengusaha dan sebagian besar berasal dari warga keturunan. Jika kita amati lebih jauh untuk menjadi pengusaha sebenarnya tidak ada kaitannya langsung dengan keturunan, gen atau bakat sejak lahir. Kalau warga keturunan biasanya mulai dari anak cucunya berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha karena memang lingkungan dan didikan sejak kecil yang menentukan hal demikian. Sebagian besar dari mereka sejak kecil sudah melihat dan melatih diri bagaimana orang tuanya berdagang mencari uang, melayani pembeli di toko, mencari barang dan sebagainya sehingga mereka sejak dini sudah faham dengan transaksi keuangan. Coba kita bandingkan dengan mental priyayi yang sejak kecil memang kita sudah dibuat mindset ntar kalau sudah besar jadi pejabat ataupun karyawan sukses yang bekerja di perusahaan besar akibatnya memang sejak kecil tidak mempunyai jiwa kemandirian untuk usaha sendiri melainkan pikirannya gimana nanti kalau sudah besar bisa hidup dengan bekerja di perusahaan orang lain atau menajdi pejabat yang dengan jabatannya dapat mengeruk kekayaan.

Menjadi pengusaha juga layaknya seperti karyawan ataupun pegawai negeri semua ada ilmunya yang perlu dipelajari dan dipraktekan.  Apakah kalau orang tua kita karyawan anaknya juga pasti menjadi karyawan dan juga jika orang tua kita pengusaha apakah kita pasti berhasil menjadi pengusaha, kami kira belum tentu. Hal ini membuktikan bahwa profesi sebagai pengusaha tidaklah dari keturunan namun karena niat dan cita-cita yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua atau lingkungan hidupnya dan kemudian diasah dengan menimba ilmu untuk dipraktekan menjadi pengusaha yang sukses. Jadi keahlian dalam berbisnis juga layaknya keahlian profesi lainnya yang dapat dipelajari dan dipraktekan oleh siapapun asal mempunyai kemauan yang kuat untuk mempelajarinya. Sedikit ilmu untuk menjadi pengusaha misalnya, mengasah kemampuan berkomunikasi verbal sehingga dapat meyakinkan kepada orang lain, mengurangi rasa malu saat latihan berjualan produk, mempelajari spefisikasi produk, mempelajari ilmu pemasaran dan sebagainya adalah sedikit ilmu untuk bekal menjadi seorang pengusaha. Semua perlu dipelajari dan bisa sambil jalan makanya untuk menjadi pengusaha juga perlu proses bahkan bisa jatuh bangun seperti syair lagu aja.

Pada saat kita belajar berbisnis misalnya kita memutuskan untuk berjualan sprei kepada teman-teman dekat atu tetangga maka kita coba beli sekodi dari pabrikan sprei atau pedagang grosir sprei. Pikiran kita sederhana saja. : ambil dengan harga X dijual dengan harga X  ditambah sedikit keuntungan. Setelah kita ambil sprei ternyata dagangan kita kok kurang laku ataupun yang laku cuma sedikit sampai di sini kita mulai belajar bisnis bagaimana memecahkan persoalan sprei yang tidak laku. Kita berpikir keras kenapa sprei ini kok tidak laku, apanya yang salah ? produknya kah ? harganya kah ? pasar atau prospeknya kah ? dan segudang PR yang mesti dikerjakan agar sprei tersebut dapat terjual. Dalam proses mencari solusi inilah kita sudah mempraktekan Ilmu Bisnis yang sebenarnya. Jika sabar dan ulet pasti kita akan ketemu solusinya bahkan kita akan dapat menemukan pasar produk lain yang tadinya tidak terpikirkan.

Misalnya kita mulai usaha sebagai pedagangan Grosir Sprei, awalnya ada yang mau beli yang tadinya cuma lihat-lihat saja dan mereka mulai banyak bertanya yang aneh-aneh, bahannya dari apa sis, beda model ini dengan itu apa sih, harganya kenapa mahal sis ? karena kita sebagai pemula akhirnya kita hanya membisu dengan segudang pertanyaan tersebut. Di sinilah kita mulai belajar cara berkomunikasi untuk menjelaskan keunggulan produk yang kita jual dihadapan calon pelanggan. Seiring dengan waktu maka banyak pertanyaan yang sudah kita rangkum dan nantinya akan dapat dengan mudah dijelaskan kepada calon pelanggan lain sehingga kita semakin pede dalam menjual produk tersebut.

Dalam menjalankan usaha kita akan menemukan banyak persaingan dengan penjual lain nah di sini kita dituntut untuk menerapkan etika bisnis sehingga tidak merugikan orang lain namun kita tetap eksis. Masih terus permasalahan akan muncul sehingga menantang kita untuk dapat menemukan solusi-solusi baru sehingga kita dapat menjadi pengusaha yang handal dan sukses.

Semoga dapat menginspirasi anda yang ingin mencoba menjadi pengusaha. Amin

This entry was posted in Bisnis Sprei. Bookmark the permalink.